Thoughts

The Strange People in A Strange Family

01 Juli 2013

Akan kuceritakan padamu apa itu keluarga.

Pada awalnya, aku tak mengerti apa itu keluarga yang berasal dari sekumpulan orang asing. Keluarga yang beranggotakan orang-orang asing tidak tetap dan keluarga yang beranggotakan orang-orang asing tetap, “Keluarga Asing”, begitu ia kunamai. Ada banyak keraguan yang tak mengenakkan dalam benak. Siapa mereka? Bagaimana aku mampu bertahan hidup bersama mereka?


Disini, di rumah aku tinggali bersama “Keluarga Asing”, yang beranggotakan 12 (dua belas) jiwa, aku salah satunya — entah terkesan berusaha atau tidak– membaur satu dengan yang lainnya.


Disini, RT 07, Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I Yogyakarta. Begitu aku menamai tempat ini. Tempat dimana aku dipatok banyak kenangan, dirasuki banyak memori bahagia dan duka. Aku tak peduli bagaimana situasi dan kondisi di rumah ini pada akhirnya, yang pada awalnya sangat menarik minatku mengetahuinya.


Aku tidak lahir dan tidak dibesarkan disini, namun hidupku akan berlangsung selama dua bulan bersama “Keluarga Asing” di tempat ini.

20 Juli 2013

Aku percepat saja menjadi tanggal ini, hari ini. Toh minggu-minggu awal tidaklah selalu (terlihat) menyenangkan, bukan?

Berbaur dengan masyarakat, hidup (dipaksa) bersosialisasi, beramah-tamah secara berlebihan, bertetangga secara menakjubkan. “Keluarga Asing” ini, kurasa ia sedang mencoba membangun pondasi yang retak dengan dinding kusam dan atap berlubang, kurasa (seperti biasa, tukang peramal kebablasan).


“Keluarga Asing” ini mulai saling mengenal, mulai saling bertukar kisah hidup beserta romansanya masing-masing, bertukar pikiran, namun belum sampai pada tahap bertukar kepribadian dan jiwa, apalagi sampai bertukar tubuh. Itu akan sangat menarik!


Keluarga ini mulai saling menerima, namun mulai pula membangun jurang menjadi dua keluarga, bahkan mulai mengeliminasi (meski sangat samar) anggota asing lainnya. Seperti zombie, seperti hukum alam yang selalu berlaku.


Keluarga ini juga telah belajar mengambil perannya masing-masing. Menempatkan diri di masyarakat dan didalam “Keluarga Asing”. Tak ada yang berebut akan menjadi siapa. Tak ada yang berminat untuk menjadi “tumbal”.


Kami (terkadang) bekerja bersama, makan bersama, tidur bersama, bernafas pun bersama. Tertawa bersama, menangis bersama, pergi bersama, pulang pun bersama. Mungkin terdengar indah. Namun  kami tak mandi bersama. Maaf.

01 Agustus 2013

Perlahan namun pasti, “Keluarga Asing” telah memecahkan dirinya menjadi dua bagian. Bagian orang-orang asing tetap sebagai “Keluarga Asing 1”, dan bagian orang-orang asing tak tetap “Keluarga Asing 2”, seperti pada awal terkumpulnya kami disini.


Tak usah kau tanyakan apa yang telah terjadi dan telah terlalui disini. Namun satu yang perlu kau pelajari dariku, bahwa kesedihan itu terkadang tak datang dengan kompak dan seimbang bersama kebahagiaan, Kawan!


Terkadang kau akan tetap sendiri dalam keluarga ini, juga kau akan lebih sering mengerjakan dan menyelesaikan (hampir) semua permasalahan sendiri. Adakah yang peduli? Mungkin ada, namun akulah yang tak peduli bila ada yang pada akhirnya peduli. Mati rasa? Sangat mungkin.


Ada kalanya bagiku menganggap ini adalah keluargaku yang tak lagi asing. Namun tak semuanya dapat kurangkul sebagai “Keluarga Inti”. Karena bagaimanapun, tanaman yang telah tumbuh lurus, tak dapat dibengkokkan dengan cara halus dalam waktu singkat dan padat.

Namun kebahagiaan dan kebiasaan-kebiasaan yang tercipta dan telah dianggap wajar, menjadi kenangan dalam foldernya sendiri. Folder yang penuh warna dan lagu surga.


Akan ada saatnya bagi keluarga ini untuk saling menusuk hingga sekarat, meski tak sampai membunuh. Karena aku tekankan padamu Kawan, bagaimana sejak awal kuperkenalkan padamu “Keluarga Asing”.

18 Agustus 2013

Bagaimana rasanya diterima oleh masyarakat? Aku bahagia akan hal itu. Aku, anggota “Keluarga Asing 2”, bersyukur dapat melewati setengah dari hal-hal yang harus kulakukan disini. Meski lebih dari separuhnya tanpa pemeran pengganti dan pameo. Meski bercucuran air mata. Meski berargumen tanpa akhir. Meski terjatuh, dimaki, difitnah berulang kali. Hey, aku sudah bahagia!


Mengenal mereka, orang-orang asing ini, dalam salah satu daftar The Most of Warning People hidupku, mereka pada dasarnya baik. Yeah, manusia tak selamanya berjiwa binatang, bukan?


Mereka, menyapaku, menepuk pundakku, memelukku, mengusap air mataku dengan sabar, merangkulku sepenuh hati, menggenggam hangat tanganku, mengusap jari-jemariku dengan tabah, memarahiku dengan tulus, menghangatkanku kala kedinginan, mendinginkanku kala terbakar, membentukku menjadi manusia berhati manusia.


Bisakah hingga pada akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa mereka bukan lagi asing? Kami bukan lagi asing? Aku bukan lagi asing?

30 Agustus 2013

Well, “Keluarga Asing” telah membangun bangunan ini dengan cacat, namun kami bertahan meski tak seluruhnya mampu bertahan, dan melaluinya bersama. Kami keluar dengan sepenuh hati dan tekad terunik sedunia : “Kami takkan kembali!”, meski beberapa dari kami kembali dan untuk kemudian pergi lagi.


Kami mempunyai “Keluarga Asing”, dan “Keluarga Asing” mempunyai kami. Namun kini terjadi pergantian nama, Kawan! Aku secara sepihak mengubahnya menjadi “Keluarga Inti”. Aku tak peduli. Toh air mata sudah jatuh bersama. Berbagi rangkulan dan genggaman hangat penuh rasa syukur dan permintaan maaf telah bergulir. Kenangan tersimpan dengan kompaknya. Aku membuat folder tersendiri di kepalaku.


Seusai ini, kami menjadi orang-orang asing yang tak lagi menjadi sekumpulan, namun menjadi individu mandiri. Kami membuat cerita tentang keluarga ini masing-masing. Dan kami menurunkannya ke hati kami masing-masing.


Hati mungkin tak lagi sama. Pikiran mungkin tak lagi berseberangan. Mungkin jiwa kami telah membaur, meski takkan pernah tertukar. Dan akhirnya aku bisa menjawab pertanyaanku : Aku mampu melaluinya, bahkan bertahan dengan orang-orang asing!


Bagaimana kabar “Keluarga Asing 1”? Hey! Kau pikir aku peduli?


Mari kita selesaikan ini.

Lihat keluarga ini. Membangun dengan susah payah, merangkai dengan sejuta cerita, meninggalkan dengan sejuta kenangan. Apa lagi yang mampu kuceritakan? Keluarga ini ada diatas kepalaku sekarang. Menari dengan cela. Menyanyi dengan sumbang. Namun tetap terlihat dan terdengar indah. Seperti biasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *