Thoughts

Rewarding Myself

Tahun 2017 udah datang aja dongs lima hari yang lalu, sodara-sodaraku sebangsa setanah air!!


Nah gue masih nyungsep aja disini mengenang 2016 yang pahit. Aissshh.. Bubar! Bubar!

Tapi gue gak mau bubar dolooo! *nangis guling-guling* Gue mau curhat cerita bagaimana gue akhirnya bertahan hidup hingga 6 Januari 2017 ini *halah*


Okaaay..

Jadi 2016 yang menghampiri hidup gue, penuh dengan air mata perjuangan dan air mata kehilangan. Intinya hampir tiap hari lho gue nyeseknyaaaa! Hampir-hampir depresi, karena ngerasa udah gak kuat, tapi gue halau sekuat gue juga, karena gue sadar sesadar-sadarnya yang namanya depresi itu gak enak, plis yah, jangan disama-samain kayak depresi yang dipake anak-anak muda kekinian macam:


“depresi nih gue ngadepin ini dosen satu!”

“gue sampe depresi nih milih baju buat kencan ntar malam!”


Bukan. Bukan depresi-depresian yang seperti itu. Tapi depresi yang berdasarkan istilah dalam ilmu psikologi yang berarti:

Gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan (Rice PL, 1992).

(Selebihnya bisa dibaca aja selintas disini.)


Yeah, that’s right! Gue HAMPIR sakit depresi. Hampir tiap hari nangis penyesalaaaaan melulu, atau nangis gak kuaaaatt melulu. Dan gue tahu, gue gak mau depresi, gue tahu gue gak akan bisa keluar kalo udah masuk lingkaran depresi. I know myself. I do.

Tiap gejala depresi mulai datang, gue ceria-ceriain hari gue dengan tidur, makan enak, baca komik, hangout dengan teman-teman, ketawa sampe gegulingan, sedekah gila-gilaan.

Intinya gue harus lupa perasaan ketidakberdayaan yang mulai menyerang itu! Karena kalo gue turutin dengan nangis dan ngurung diri di kamar 24 jam, resikonya adalah:
1. Gue masuk fase depresi,
2. Kuliah gak kelar,
3. Gue bau karena gak mau mandi,
4. Kebelet pipis dan pup karena kamar mandi ada di luar kamar,
4. Kelaperan karena makanan hanya ada di luar kamar,
dan lain alasannya karena gue males nyari alasan.

Puncak dari tingkat stres gue (masih menolak disebut depresi) yang mencapai titik kulminasi ditandai dengan munculnya alergi parah di tangan, lengan, leher dan paha gue yang luar biasa yang hal itu malah menambah stres di pikiran gue karena gatal yang menyengat dan perasaan jijik sama diri sendiri yang bikin gue ngerasa kotor, gak bersih dan gak steril, sampe-sampe bikin gue bolak balik kamar mandi cuma untuk cuci tangan dan cuci kaki berkali-kali pake cairan antiseptik. Persis kayak penderita OCD (obsessive compulsive disorder).

Dan itu memperpanjang tangisan gue di malam hari maupun saat gue ngerasa jijik atau saat gatalnya timbul.
Karena dirasa sakit gue yang makin hancur dan parah, serta berat badan gue yang menurun drastis (gue jadi kurus kering nyentuh angka 37-38 kg), akhirnya gue dibawa ke rumah sakit, biar ketemu sama dokter spKK.

Sekarang sih tinggal bekas, tapi stres yang gue alami itu sekarang jadi  salah satu allergen bersama bahan-bahan kimia lainnya dan itu bersifat kronis. Jadi, gue TIDAK BOLEH stres dan bersentuhan langsung dengan bahan kimia. Beuuuuhh.. KELAR BET YAK! Syukur gue gak alergi cowok cakep.

Padahal kan ya, yang namanya hidup mah ada aja yang dipikirin. Namanya juga hidup, gak selalu manis, gak selalu di atas, gak selalu bahagia.
Namanya juga otak ya, pasti dipake buat mikir, kalo gak boleh mikir, kepala bisa gue lepasin dulu gak isinya?


Nah… Saking lebih banyak cerita sedihnya dibanding bahagianya, gue sampe udah gak inget apa aja yang bikin gue bahagia di tahun 2016 kemarin. Gosh!

Antara lupa atau gak tau bersyukur sih sebenernya.
Dengan ini gue membenarkan teori yang dibilang sama temen gue, kalo otak kita tuh lebih mudah mengingat memori akan kesedihan daripada kegembiraan.


Sekelarnya tahun 2016 kemarin yang dirayakan dengan tidur pulasnya gue jam 22.30 WIB dan dibangunkan jam 05.00 WIB oleh alarm hp tapi gak guna, karena gue lebih memilih tidur lagi dan bangun jam 09.00, gue nyatakan gue udah tutup buku akhir tahun! Titik! 

Setelah tiga hari berlalu begitu saja di tahun yang baru, gue memutuskan untuk memberi penghargaan dan semangat kepada diri gue sendiri, yaitu designing a schedule note 2017!

Bikin dengan sepenuh hati, dan bahagia banget setelah selesai dicetak. Cuma finishingnya ternyata hijaunya jadi hijau tua, padahal kalo dari desktop, hijaunya sama dengan hijau pulpen di sebelahnya. Overall, gue suka, bodo amat lo mo kata ape juga! :p


Dan yang bikin gue seneng, mas tukang nyetaknya nyeletuk, “mbak orang desain ya? Orangnya Desainnya simple dan manis.”

Ini penampakannya:

Hijaunya gelap bat!

Tanggalnya bisa gue tulisin catatan random
Copyright dari gambarnya teuteup gue cantumin pake pulpen.


Jadi, ayok disemangat-semangatin! Segala kesedihan dan penyesalan sudah berlalu, sudah harus dihapuskan dan hanya dikenang sesekali saja. Mau merutuk-rutuki diri sendiri juga gak guna. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Maafkanlah diri sendiri. Karena hal-hal yang terlihat dengan jelas sekarang, pada waktu itu gak terlihat jelas. Padahal di waktu itu kita dituntut untuk menentukan pilihan. Pada waktu itu hidup jauh lebih berat, bukan?

Hingga jadilah kita pada hari ini. Yang sudah melihat hasil akhirnya. Yang sudah melihat prosesnya. Yang sudah menjadi lebih tahu apa yang seharusnya diambil pada waktu dulu itu, yang dulu lagi bingung itu.


Hargailah diri sendiri yang sudah membuat keputusan-keputusan penting demi hidupmu pada posisi ini. Kayak kata Sherlock Holmes, “mudah untuk menjadi bijaksana SETELAH peristiwa terjadi.”

Kita gak tau apa yang bakal nunggu di tahun 2017 ini. Kalaupun nanti juga akan lebih banyak dukanya dibanding sukanya, ya mau dikata apa? Toh bukan kita yang mau juga, kita juga gak ngerencanain bakal demikian. Terima saja.

Belajar ikhlas itu harus dicicil mulai detik ini. Sampai mati.

*kemudian gue belajar olah nafas, olah stres, dan meditasi*


Selamat datang, 2017!

Semoga sukses!

2 thoughts on “Rewarding Myself

  1. The part when you said, “Gue bau, karena gak mau mandi”, itu bener-bener ngena banget lucunya, I still laughing because of that until now. Hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *