Thoughts

Review: Essilor Crizal Eyezen

Hello everybody..

Hari ini aku mau review kacamata yang sudah kupakai sejak 16 Juli 2016.
Aku cuma akan me-review singkat secara penggunaan awam, jadi kalau mau review yang berbau scientific, silahkan googling ke web Essilornya langsung ya di sini.. 
(web Essilor tersebut terakhir kuakses pada 27 April 2017)


Photophobia

Well, mataku sejak SMP udah ketahuan vampirnya. Yep, mataku photophobia. Photophobia itu singkatnya ketidakmampuan mata untuk menoleransi cahaya.
(Lengkapnya baca saja di sini ya.. Jangan malas baca!)
Intinya, mataku tingkat sensitivitas dalam menerima cahaya sangat tinggi, jadi aku paling sebal kalau berhadapan dengan layar apapun (laptop, TV, smartphone, bahkan tampilan proyektor), lampu apapun, sinar matahari, etc. Pokoknya semua yang memancarkan cahaya, langsung bikin mataku nangis kejer kayak baru habis diputusin pacar.


The Doctor / Optician Said…

Tahun 2007: “Matamu baik-baik aja kok. Normal malah. Bahkan untuk seusiamu, bisa membaca tulisan yang sangat kecil tanpa ragu ya? Hebat. Saya resepkan cairan (entah apa, lupa, kalau gak salah ingat namanya sejenis cendo xitrol) dan vitamin mata ya.”
The results was……
Mataku jadi sangat bergantung pada cairan itu. Tanpa cairan itu, aku butaaaa, tak tau arah jalan pulang.. (jadi nyanyi). Aku nangis aja doong.. keren ya, gak usah diomelin, gak usah ada yang meninggal, gak usah ada yang nyakitin, mataku otomatis ngeluarin air mata sebanyak-banyaknya. Tumpah ruah!

Tahun 2008: “Oh.. matamu sebelah kanan minus 1/4, kiri plus 1/4, dan keduanya silinder 1/4.”
What the hell??
Mata apaan yang bisa seenak udel beda-beda maunya kayak gitu?? Ya mataku sih….

Tahun 2010: “Matamu normal kok.. Bahkan bisa baca tulisan kecil itu? Keren dong ya.. Tapi karena kamu nangis kesakitan terus tiap lihat cahaya, mungkin itu efek silindernya ya..

Tahun 2016: “Cuma silinder 1/4 kok.. Tapi huruf yang paling bawah itu bisa kamu baca? bagus tuh untuk usia kamu sekarang.”
Emang berapa usiaku, Pak??

Dan akhirnya pilihan untuk lensa kacamataku jatuh ke Eyezen.


Why: EYEZEN?

Efek (kebanyakan) baca dan membanding-bandingkan lensa yang satu dengan lensa yang lain, pilihanku akhirnya jatuh ke Eyezen. Alasannya:
1. Tidak bisa jauh dari laptop dan smartphone;
2. Gampang menangis karena silau;
3. (Katanya) bisa memfilter radiasi blue ray dan sinar UV;
4. (Katanya) ada W.A.V.E. Tech (Wavefront Advanced Vision Enhancement) yang bikin pandangan jadi jernih;
5. Pilihan lensa sesuai umur! (ini sih yang kocak)
6. Silahkan googling sendiri deh ya.. (author terlalu malas mengetik panjang lebar, jangan ditiru).

Setelah pemakaian 9 bulan (jangka waktu bentar lagi lahiran), aku menarik kesimpulan, yaitu:

Cons:
– Harganya mahal.
Aku pilih lensa SV Eyezen Plus 1.59, harganya kalau gak salah ingat sekitar Rp1.800.000-2.000.000. Tapi kalau di bawah indeks 1.59 sih harganya lebih murah dan mungkin bakal di-diskon optiknya, meski tidak setipis indeks 1.59. Seingatku, indeks Eyezen ada 3:
1. Orma 1.50;
2. Airwear 1.59;
3. Stylis 1.67.
(lebih baik tanyakan saja ke optician ya, yang pasti semakin besar angkanya, semakin tipis, ringan dan mahal lensanya).

– Tidak anti gores.
Entah kenapa tiba-tiba ada baret-baret halus dalam 2 minggu. Padahal belum aku pakai untuk daily use or computer use (karena masih menyesuaikan diri dengan kacamata baru, aku prefer pakai kacamata yang lama).

– Tidak bisa dipakai sambil foto-foto.
Apalagi kalau pakai blitz. Karena akan terlihat lebih gelap atau akan memancarkan/pendar warna ungu.

Pros:
+ Pandangan jadi sedikit redup.
Tidak sesilau dibanding tidak pakai kacamata. Walaupun bilangnya redup, tapi maksudnya lebih ke arah “adem” untuk mata vampirku ini.

+ Pemandangan jernih, jelas terlihat, dan bersih.
Seperti tidak pakai kacamata, dan yang pasti, tidak bikin nangis automatically.

+ Mudah dibersihkan.
Bulu kucing yang menempel tinggal kutiup. Sidik jari yang menempel tidak sebanyak lensa biasa.

+ Ringan
Mungkin karena aku pilih indeksnya yang 1.59. Tapi harusnya tidak begitu jauh bobotnya. Dan disesuaikan juga dengan framenya ya.. Mau lebih ringan? Silahkan pilih frame berbahan plastik atau titanium.

+ Pendar ungu
Mungkin “khasiat”nya sama/sebanding lensa Essilor yang Anti Fatigue digabungin sama Prevencia kali ya? Tapi setauku lensa Anti Fatigue udah discontinued deh, kalo Prevencia sih masih ada. Soalnya kalau dipaparkan ke arah sinar, akan terlihat di lensanya warna ungu. Mungkin maksudnya dia sedang pantulin cahaya itu makanya warnanya ungu.

+ Pilihan lensa sesuai usia penderita pengguna.
Karena usiaku dalam range 18-34 tahun, jadi aku pakai lensa Eyezen Plus. Setauku Eyezen terbagi dalam 3 range usia:
1. Eyezen Plus: 18-34 tahun;
2. Eyezen Pro: 35-44 tahun;
3. Eyezen Max: 45-50 tahun.
(lebih baik tanyakan saja ke optician ya)

+ Garansi 2 tahun
But we know lah yaaa, garansi macam apa yang di-cover……….


Kelebihan yang aku anggap magic, tiap kali aku mual atau mau nangis atau pusing (gejala photophobia mulai kambuh), langsung aja kenakan kacamataku ini. Trus agak mendingan malah terkadang sembuh. Kayak obat jadinya ya? hahaha…

Jangan tertipu cover kartunya ya,
karena informasi di belakang kartunya yang benar.


Kalau dalam foto, lensa ini, pendar ungunya tidak begitu terlihat,
tapi aslinya, bayangan yang tampak di lensa di atas berwarna ungu.


Sekian review tentang lensa Essilor Crizal Eyezen kali ini. Kurang lebihnya silahkan ditambahkan sendiri ya…

Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *