Simile

Pagi ini… Kau tetap tak bernama

Aku mencintai kala ku buka telinga di awal pagi, masih ada alunan lagu lembut mengiringi tidur lelapku semalam.

Aku mencintai kala ku aktifkan hidung di awal pagi, masih ada aroma basah hujan tengah malam karena kubuka salah satu pintu jendela lebar-lebar.
Aku mencintai kala ku buka mata ini, melihat sekeliling yang nyatanya tak dapat kulihat karena telah kupadamkan lampu semalam.
Aku mencintai kala ku gerakkan kedua tangan dan kakiku, aku masih bisa merasakan halusnya bulu kucing mengitariku.

Aku mencintai kala burung-burung berkicau padaku menyambut senyum cerahku.

Aku melangkah keluar, menyeduh segelas susu coklat hangat ditemani tiga lapis roti.
Kupandangi nanar pagi hari ini.
Ah, bahkan hingga hari ini pun, kau masih belum bernama, pagi…
Baiklah, mungkin harus aku yang turun tangan memberikan nama padamu.
Tapi nanti saja.
Aku masih sebagai orang yang pemalas dan menunda-nunda waktuku.
Padahal bagiku, tanpa kau, pagi, aku pun takkan pernah ada…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *