Thoughts

Lucunya Hati Ini

Semenjak hidup di (sekitaran) Jakarta, gue sadar kalo diri gue ini lama-lama mendingin, gak sehangat waktu gue masih di Yogyakarta. Iyes, dingin kayak mayat  perasaan gue. Karena atmosfir lingkungan di sini yang gak pedulian, keras, dan daya kompetitifnya tinggi, bikin gue yang dasarnya udah mager ini jadi makin males berbaur sama yang namanya manusia, juga karena semakin lama tinggal di sini gue juga semakin sadar kalo manusia di sini gak selow. Hahahaha
Tapi dasarnya gue yang ambivert, seenggak maunya gue berinteraksi dengan manusia, pasti ada kalanya bener-bener butuh keluar rumah, berinteraksi, kepoin, at least senyumin manusia yang gue lewati. Ada rasa haus yang nuntut untuk melihat manusia hidup.
Tapi ya itu, tetep aja hati jadi kebas. Meski bibir gue ketawa lebar, rasanya hati gue, enggak.
Lama-lama gue sadari, satu-satunya api nyawa gue masih ketinggalan di Yogya. Api yang bikin gue jadi membara penuh semangat atau setidaknya mampu bikin hati menghangat bahagia.
Ada secuil api kecil namun mampu membakar segala yang berbau keangkuhan, konsumerisme dan ketidakacuhan di sini.
Sungguh menyenangkan.
Melegakan.
Bahkan kabar apapun yang gue terima dari lingkungan gue dulu selama masih di Yogya, saudara-saudara, temen-temen, itu benar-benar mampu menghancurkan atau menghangatkan hati. Benar-benar pegang pengaruh yang luar biasa efeknya. Bisa tahan sampai berminggu-minggu.
Lucunya hati ini. Gue sampai gak tega nyuruh move-on.

Lagian ngapain juga harus move-on?

Hanya di kota itu tersisa manusia yang berhati manusia.
Jangan suruh gue move-on.

Gue gak mau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *