Family

Just One Day

Awan hitam pekat menemaniku
Menutupi sinar matahari bagiku
Rupanya ia mengerti bahwa aku hanya ingin kegelapan menyelimuti
Aku masih berdiri di sini
Di tanah pembaringan terakhirmu
Tak melakukan apapun
Tak menangisimu, tak meratapimu, tak pula menatapmu
Ada satu kalimat yang akan selalu kuingat darimu
“Jangan pernah menangisi kepergianku”
Namun bagiku, betapa berat hal itu
Aku terus menerus mencoba
Namun tak jua beranjak darimu
Karena begitu aku beranjak
Seluruh rongga kosong hati akan meluruh lebur
Hanya dengan satu alasan
Aku tak mampu dan belum siap kehilangan sosokmu
Bagimu masalah itu sederhana
Karena kau yang meninggalkan, setelah itu usai
Namun bagiku, ditinggalkan, setelah itu segalanya berubah
Bukankah kau pernah berkata padaku
“Ketika mereka tak lagi di sampingmu, segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka akan menghilang. Dan kau takkan lagi sama dengan kau yang dulu”
Kau pun selalu berkata
“Ketika kau merasa lepas, itu hanyalah sebagian kecil. Selebihnya dan seterusnya, hidupmu kan terus berlanjut dan terwarnai”
Aku memercayai hal itu
Namun kuingin
Satu hari saja, izinkan aku untuk mengenangmu, merasakan bahwa kau pernah hadir dan turut serta ambil bagian dalam pewarnaan hidupku
Dan berterima kasih telah membimbingku, mengajariku beribu makna tanpa kusadari telah mendewasakanku
Kuingat kalimatmu “Kau yang sekarang, karena mereka yang membentukmu. Sehingga ketika kau telah terbentuk, kau akan melihat dirimu sebagai bagian dari mereka”
Maka izinkan hanya sehari saja
Karena setelah itu aku akan melupakanmu, melepaskanmu, merelakanmu untuk selamanya
Kemudian melanjutkan hidupku
Berdasarkan inginmu dan pusat kontrol diriku sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *