Thoughts

Because I’m not a Puppet

“Anakku, kita dilahirkan oleh Tuhan dengan limpahan cinta dan kasih sayang.

Maka dalam darahmu mengalir limpahan cinta dan kasih sayang yang sama.

Aku tak ingin kau mencintai dan memberikan kasih sayangmu pada mereka yang tak pantas menerima semua itu darimu.

Jika mereka menyakiti fisik maupun mentalmu, jangan kau simpan mereka dalam genggamanmu.

Mereka tak pantas untukmu.

Kau berarti. Dirimu, pikiran serta seluruh jiwa dan ragamu sangat berarti.

Jangan pernah kau biarkan dirimu dilukai oleh siapapun.

Tuhan saja menjagamu, melindungimu, menjunjungmu. Maka kepada mereka yang tak bisa menghargaimu, tinggalkan mereka.

Mereka hanya akan membawa kerusakan pada kejernihan dirimu.”

Aku dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat menjunjung tinggi kemerdekaan kaumnya. Ia sangat menyayangi tubuh dan batinnya dari sentuhan kasar siapapun mereka. Termasuk oleh suaminya. Ayahku adalah seorang yang pendiam, tapi akan pula angkat bicara dengan lantang kala ia merasa ditekan oleh istrinya. Mereka berdua menanamkan padaku bahwa aku harus selalu menjaga diriku. Mencari seseorang yang kucintai dan yang mencintaiku. Yang mampu kulindungi harta dan jiwanya, begitupun dia yang mampu melindungi harta dan jiwaku. Yang bisa saling mengerti tanpa harus ada konflik berarti.
~~**~~
Berikut aku sajikan beberapa curhatan nyata dari beberapa orang yang merasa ditekan kebebasannya oleh orang lain :
“Setiap hari jika saya melakukan sesuatu yang tidak suami saya sukai, saya pasti langsung di pukuli. Masih syukur kalau rambut saya cuma dijambak dan dibentak-bentak didepan anak-anak saya.”
“Saya tidak sanggup melahirkan lebih dari 2 (dua) orang anak. Tapi suami terus menerus meminta saya agar hamil lagi. Lagi dan lagi. Padahal dua saja saya sudah kerepotan mengurusnya.”
“Setiap hari saya menunggu suami saya pulang kerja. Masakan diatas meja itu sudah dua kali saya panaskan. Dia belum pulang juga. Sedangkan saya, tak boleh kemana-mana. Seharian mengurus rumah.”
“Ketika saya minta cerai pada suami, anak-anak saya akan direbut dari sisi saya oleh suami. Saya takut. Saya takut, saya tidak jadi cerai.”
“Saya capek, begitu pulang kerja, tidak ada yang membuatkan the untuk saya. Istri masih nongkrong dengan teman-temannya. Anak dan rumah terlantar. Begitupun dengan saya.”
“Istri kerja. Begitupun dengan saya. Namun stiap hari, sayalah yang membersihkan rumah karena selalu pulang lebih dahulu daripada istri. Tapi ketika weekend istri tidak pernah mau menyelesaikan tugasnya sebagai istri dan ibu. Dia capek, katanya.”
“Saya mempunyai seorang teman. Saya merasa, selama ini dia memanfaatkan saya setiap kali dia butuh saya. Ketika dia tidak membutuhkan saya, berpapasan pun dia pura-pura tidak lihat. Kalau dia butuh, tapi saya tidak bisa, dia akan terus menekan saya supaya saya berkata “bisa” padanya. Bukan seperti ini yang namanya teman.”
“Kami sudah berpacaran 2 tahun. Tapi selama ini saya terus yang harus keluar uang “mendanai” kebutuhan fisiknya. Mulai dari makan, shopping, salon, bahkan aksesoris-aksesoris yang dia pakai pun “didanai” dari uang (orang tua) saya. Saya tahu, ini termasuk pacaran yang ga sehat. Tapi mau gimana lagi, saya sudah lama berhubungan dengannya. Dan saya mencintainya.”
~~**~~
Maka aku masih tak mengerti mengapa masih ada yang mau disakiti fisiknya, ditekan mentalnya, dirampas hartanya, dan MASIH bertahan atas nama CINTA? Can you look at yourself? Dirimu lebih mahal dari perhiasan mahal apapun yang ada di dunia. Jangan pernah takut melawan ketika kita dilukai oleh orang lain. Jangan pernah takut dan ragu berteriak lantang,”Hey, ini kebebasan gue!! Apa-apan lo langgar kayak gini?! Siapa lo?”
Jangan pernah takut kehilangan orang yang kita cintai tapi selalu melukai harga diri kita. Ingat, mereka tak pantas untuk kita.
Kita selalu ingin dan berharap orang lain mencintai kita. Tapi bagaimana mereka bisa mencintai kita kalau kita tidak mau mencintai dan melindungi harga diri kita sendiri? Buka mata, hati dan pikiranmu, teman!! Cinta dan kasih sayang, bukan seperti ini wujudnya. Bukan dengan menindas, merampas, menekan, dan meniadakan kebebasan orang lain.
Masih banyak manusia lain yang bisa menyayangi kita tanpa akan melukai kita. Yang bersamanya jiwa akan tenteram dan terlindungi.
Terkadang aku masih percaya dengan Hukum Tuhan (Hukum Karma juga sih), siapa yang menanam, maka ia akan menuai. Jika kita mencintai, kita pun akan dicintai. Jangan pernah takut untuk melindungi diri dari siapapun yang akan melukai. Tapi, kita pun jangan melukai diri sendiri ;
“Ah, saya itu bodoh. Saya tidak bisa melakukan ini.”
“Saya tidak lebih cantik/ganteng dari dia. Saya tidak pantas dicintai.”
HEYYY!!! Lihat di cermin, Kawan! Tuhan itu Maha Indah! Tidak mungkin ia menciptakan kalian dalam bentuk buruk rupa. Ia menghiasi kalian dengan perhiasan yang telah Ia karuniakan pada kalian. Kalian sama sederajat satu sama lain. Tidak ada yang namanya Putri, Pangeran, Raja, Ratu, Presiden, jika kelakuannya macam binatang, bahkan dibawah binatang.
Kalian indah, karena itu sebabnya Tuhan menciptakan dunia dengan indah pula.
~~**~~

independent.ie

2 thoughts on “Because I’m not a Puppet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *