Simile

A Letter for God

Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa aku memilih Islam sebagai agamaku
Dengan mantap aku menjawab
Mengapa kau memilih agamamu itu?
Tuhan,
Ketika banyak orang yang bertanya
Mengapa harus melaksanakan rukun Islam yang 4 dan 5 jika mampu?
Aku menjawab
Apakah agamamu meminta hal yang serupa dengan cara yang berbeda?
Tuhan,
Ketika banyak orang yang bertanya
Mengapa kita harus percaya pada rukun iman?
Aku menjawab
Jika tiada satupun kebenaran yang kau percaya, lalu keyakinan yang manakah yang akan kau jadikan landasan kepercayaanmu?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa harus membaca kitab suci Al-Qur’an?
Aku menjawab
Bagaimana kau tahu Tuhan mencintaimu jika kau belum membaca surat cinta-Nya untukmu?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa harus mengenakan jilbab?
Aku menjawab
Inginkah kau dipandang sebelah mata hanya karena kau tak bisa melindungi kehormatan dirimu sendiri?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa harus menundukkan pandangan pada lawan jenis?
Aku menjawab
Tidakkah kau merasa terganggu jika orang lain melihatmu terus-menerus?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa Tuhan tak pernah mengabulkan pinta mereka?
Aku menjawab
Bukankah ketika kau tak berpakaian, tanpa kau pinta Dia memberikanmu pakaian?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mereka ingin berubah dan telah berusaha berubah, namun mengapa kehidupan tak kunjung berubah lebih baik?
Aku menjawab
Bagaimana kau bisa berubah jika ada hal yang salah yang telah kau lakukan, ketika kau tengah berubah?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa harus menggunakan bahasa Arab ketika sholat maupun membaca Al-Quran?
Aku menjawab
Jika tak belajar menggunakan bahasa Arab, lalu bagaimana caranya kau bisa menjawab pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa banyak ketidakadilan menimpa sedangkan Kau tidak tidur?
Aku menjawab
Tahukah kau bahwa Tuhan tengah menguji hingga sampai pada batas mana kau bersabar?
Tuhan,
Bagiku semua pertanyaan ini sulit, ditambah lagi dengan aku yang tak mampu menjawabnya. Aku selalu berkelit dengan kembali memberikan pertanyaan balik, hingga biarkan mereka sendiri yang menemukan jawabannya. Aku mungkin hampir menyerah, karena apa yang kupunya, tak mampu kuberikan pada mereka. Bahkan pertanyaan untuk keberadaanku sendiri pun tak mampu kujawab. Lalu bagaimana aku mampu menjawab pertanyaan dari orang lain yang begitu sensitif?
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Apakah aku mencintaiMu sebagaimana Kau mencintaiku?
Aku terdiam
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Apakah Tuhan akan cemburu jika di hati ada cinta lain yang tumbuh lebih besar daripada cinta untukMu?
Aku terdiam
Tuhan,
Ketika banyak orang bertanya
Mengapa cara berdoa meminta kepadaMu berbeda dengan cara agama lain berdoa meminta? Aku terdiam
Tuhan,
Ketika banyak orang yang menganggap bahwa Islam ialah agama teroris
Aku terdiam
Masih banyak lagi pertanyaan yang tak mampu kujawab. Kini aku menanyakannya padaMu. Pertanyaan mereka kuteruskan padamu. Berharap Kau berkenan memberikan penjelasan padaku. Apa, mengapa dan bagaimana agamaMu yang sungguh damai dan indah ini?
Bagaimana aku harus menilai agamaku sendiri? Bagaimana aku telah ditakdirkan di jalan ini tanpa mampu berpaling? Mengapa aku selalu melihatMu sebagai Engkau yang Maha Indah dan merasa seluruh cintaku takkan cukup untuk kuberikan padaMu? Walaupun aku memiliki cinta yang lain di hatiku, walaupun itu bukan untukMu?
Inilah suratku yang kini berani kulayangkan padaMu. Walaupun dengan penuh kebimbangan dan ketakutan bagaimana jika Kau tak peduli. Namun aku peduli. Aku peduli pada hidupku. Aku peduli pada pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan aku pun peduli pada jalan yang kupilih tanpa takut salah.
Bahwa aku manusia dan memiliki harapan dan juga keraguan untuk mengatakan padaMu bahwa ‘Inilah suratku’ dan pada mereka yang bertanya bahwa ‘Pertanyaan kalian biarlah kuteruskan pada Tuhan agar Dia saja yang menjawabnya’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *